Wali Kota Pekalongan, H. A. Afzan Arslan Djunaid, S.E., M.M., paparan langsung dalam Seminar Nasional Ketahanan Iklim Berkelanjutan yang berlangsung di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
JAKARTA -
Kota Pekalongan resmi menjadi salah satu model percontohan nasional dalam aksi
ketahanan iklim berbasis masyarakat. Keberhasilan tersebut dipaparkan langsung
oleh Wali Kota Pekalongan, H. A. Afzan Arslan Djunaid, S.E., M.M., dalam
Seminar Nasional Ketahanan Iklim Berkelanjutan yang berlangsung di JS Luwansa
Hotel, Jakarta, Rabu (24/6).
Acara berskala nasional ini dibuka secara resmi oleh
Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) RI,
Franky Zamzani, S.Hut., M.Env. Dalam sambutannya, Franky mengapresiasi langkah
konkret yang telah ditunjukkan oleh pemerintah daerah dalam menerjemahkan
kebijakan iklim global ke tingkat tapak.
"Aksi ketahanan iklim tidak akan berdampak besar
tanpa adanya komitmen kuat dari pemerintah daerah dan pelibatan aktif
masyarakat. Apa yang dilakukan di Pekalongan adalah bukti bahwa adaptasi
perubahan iklim bisa berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan
warga," tegas Franky.
Seminar ini turut dihadiri langsung oleh Hugo Remaury
dari Adaptation Fund Secretariat. Dalam pemaparannya, Hugo menyampaikan
pandangan global mengenai pentingnya pendanaan internasional yang tepat sasaran
untuk mendukung daerah-daerah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim,
seperti halnya Kota Pekalongan yang menjadi salah satu penerima manfaat
pendanaan global tersebut.
Sesi diskusi panel bertajuk 'Inklusi Sosial Dalam
Adaptasi Perubahan Iklim: Pelajaran dari Pekalongan' yang dipandu oleh
moderator Inez Stefanie (Co-founder & Partner Supernova Equatora Capital)
menghadirkan jajaran pembicara ahli. Selain Wali Kota Pekalongan dan Franky
Zamzani, hadir pula sebagai panelis yaitu Dr. Heru Santoso, M.App.Sc. (Ketua
Kelompok Riset Perubahan Iklim, Iklim Urban dan Pembangunan Berkelanjutan
BRIN), Ade Soekadis (Executive Director Mercy Corps Indonesia), serta Inda
Loekman (Direktur Kebijakan Strategis dan Manajemen Pengetahuan KEMITRAAN).
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Pekalongan
didampingi langsung oleh jajaran delegasi daerah yang terdiri dari lintas
sektor pemerintahan dan keterwakilan masyarakat sipil. Dari unsur birokrasi,
hadir perwakilan dari BAPPERIDA, Dinas Pertanian dan Pangan, DPUPR, Dinkominfo,
Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kesehatan,
Dindagkop-UKM, Dinparbudpora Kota
Pekalongan, serta Camat Pekalongan Utara.
Sementara dari unsur masyarakat yang hadir dalam seminar
tersebut serta berpartispasi dalam expo adalah perwakilan dari KOBAR, Kelompok
Batik Ekologis, KTH Rimba Degayu, KSM TPST Mitra Brayan Resik, serta Pokja
Perubahan Iklim (PI) dari delapan kelurahan, yakni Kelurahan Degayu, Panjang
Wetan, Panjang Baru, Kandang Panjang, Bandengan, Padukuhan Kraton, Krapyak, dan
Pasirkratonkramat.
Di hadapan ratusan peserta, Wali Kota Pekalongan
membagikan pengalaman konkret mengenai peta jalan kota dalam menghadapi ancaman
degradasi lingkungan, seperti bencana rob dan abrasi pesisir. Program tersebut
merupakan buah kolaborasi erat antara Pemerintah Kota Pekalongan, KEMITRAAN
selaku National Implementing Entity (NIE), dan pendanaan global dari Adaptation
Fund (AF).
"Kami berfokus pada pendekatan inklusi sosial,
memastikan seluruh kelompok masyarakat terlibat secara aktif mulai dari
perencanaan hingga implementasi di lapangan," ujar Wali Kota Afzan.
Sebagai wilayah pesisir yang rentan terhadap dampak
krisis iklim, Kota Pekalongan dinilai sukses mengintegrasikan aspek lingkungan
dengan penguatan ekonomi lokal melalui tiga inisiatif nyata: penguatan
infrastruktur adaptif drainase, pengembangan ekosistem penghidupan baru seperti
silvofishery dan pelestarian mangrove, hingga sektor kreatif ramah lingkungan
lewat produksi batik ekologis.
Direktur Eksekutif KEMITRAAN, Nurina Widagdo,
mengungkapkan bahwa keterlibatan masyarakat sebagai aktor utama adalah kunci
efektivitas program adaptasi. Melalui seminar nasional dua hari ini (24–25 Juni
2026), praktik baik dari Pekalongan bersama empat daerah lainnya—Bulukumba,
Maluku Tengah, DAS Sadang, dan Samarinda—diharapkan dapat dirumuskan menjadi
rekomendasi kebijakan nasional.
Pada hari kedua seminar, perwakilan Bapperida Kota Pekalongan bersama Wakil Wali Kota Pekalongan, Hj. Balgis Diab, S.E., S.Ag., M.M dijadwalkan menjabarkan strategi integrasi aksi iklim ke dalam dokumen perencanaan daerah (RPJMD/RKPD) serta aspek Pengarusutamaan Gender (PPUG). Langkah ini diambil guna memastikan hak dan kebutuhan kelompok rentan, khususnya perempuan dan generasi muda, tetap terakomodasi dalam menghadapi krisis iklim global. (Paramudya)