Inggit Soraya Dorong Sinergi Literasi dari Kota Pekalongan hingga Tingkat Kelurahan

Inggit Soraya, Bunda Literasi Kota Pekalongan, hadiri Rapat Koordinasi Bunda Literasi Jawa Tengah 2026 di gedung Gradika Bakti Praja Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, (10/2/2026)

SEMARANG – Gerakan literasi di Jawa Tengah semakin menguat dengan hadirnya Bunda Literasi di berbagai daerah. Salah satunya, Inggit Soraya, Bunda Literasi Kota Pekalongan, yang menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem literasi dari tingkat kota hingga ke kelurahan.

 

 

 

Dalam Rapat Koordinasi Bunda Literasi Jawa Tengah 2026 bertema “Sinergi Bunda Literasi untuk Jawa Tengah Maju Berkelanjutan” yang dilaksnakan di gedung Gradika Bakti Praja Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, (10/2/2026), Inggit menyampaikan bahwa kehadiran Bunda Literasi di tingkat provinsi merupakan sebuah semangat baru.

 

 

 

"Alhamdulillah ini untuk pertama kalinya ada Bunda Literasi di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Sebelumnya memang belum ada, dan sekarang tugasnya harus disinergikan dari provinsi ke kabupaten/kota, bahkan sampai ke kecamatan dan kelurahan,” ujarnya.

 

 

 

Langkah awal yang dilakukan Inggit adalah membentuk Pokja Bunda Literasi di Kota Pekalongan. Menurutnya, keberadaan kelompok kerja ini penting agar program literasi bisa direncanakan dan dijalankan secara kolaboratif.

 

 

 

“Kita harus sinergi, harus membentuk tim. Dengan adanya pokja, kita bisa merencanakan program sesuai arahan Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah,” tambahnya.

 

 

 

Inggit menekankan bahwa literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan mengelola informasi, membangun gagasan, serta memperkuat nilai-nilai budaya lokal. Ia berharap gerakan literasi di Pekalongan dapat menjadi contoh bagi daerah lain, terutama dalam pengembangan literasi digital, perpustakaan desa, taman baca, dan relawan literasi masyarakat.

 

 

Sejalan dengan arahan Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, Inggit juga menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu menyerap dan mengolah informasi secara bijak.

 

 

 

“Mindset literasi harus kita luruskan. Literasi bukan sekadar membaca, tetapi bagaimana informasi bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat,” tegasnya.

 

 

 

Dengan semangat kolaborasi, Inggit optimistis gerakan literasi di Kota Pekalongan akan menjadi motor penggerak bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, sekaligus memperkuat budaya dan kearifan lokal di tengah arus globalisasi. (Paramudya)


Berikan Pendapat Anda