Kota Pekalongan - Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos-P2KB) setempat terus melakukan berbagai upaya demi menekan angka prevalensi stunting, mulai dari perencanaan, pencegahan dan juga pengobatan kepada balita.
Kepala Dinsos-P2KB Kota Pekalongan, Yos Rosyidi menjelaskan bahwa, penurunan angka stunting menjadi salah satu hal yang diprioritaskan oleh Pemkot Pekalongan, kendati angka prevalensi stunting Kota Batik ini dari tahun ke tahun semakin menurun. Yos menyebutkan, berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dari Kementerian Kesehatan RI, angka prevalensi di Kota Pekalongan Tahun 2021 sebesar 20, 6 persen, di Tahun 2022 ini targetnya bisa turun kembali menjadi 17,19 persen.
" Mudah-mudahan kalau hasil SSGI dari Kemenkes bisa terpenuhi, di Tahun 2023 mendatang diharapkan bisa menjadi 14,88 persen dan Tahun 2024 bisa berada di angka 12,24 persen," ucap Yos usai menghadiri Kegiatan Sosialisasi dan Pembekalan Bagi Penyuluh Agama dalam Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi Jawa Tengah yang diinisiasi oleh BKKBN dan Kementerian Agama RI, berlangsung di Gedung HA Djunaid Convention Center, Rabu (28/12/2022).
Percepatan penurunan stunting terbagi dalam dua intervensi yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Dimana intervensi spesifik merupakan kegiatan yang langsung mengatasi terjadinya stunting seperti asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular, dan kesehatan lingkungan. Sedangkan, intervensi sensitif mencakup peningkatan penyediaan air bersih dan sarana sanitasi, peningkatan akses kualitas pelayanan gizi dan kesehatan.
Menurutnya, berbagai upaya terus dilakukan Pemkot Pekalongan, termasuk secara manajerial yakni pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dari tingkat kota hingga kecamatan dan kelurahan. Selain itu, Dinsos-P2KB juga telah bekerjasama dengan TP-PKK, penyuluh Keluarga Berencana (KB), Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4 ) dan Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pekalongan, membentuk Kampung Keluarga Berencana (KB), Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat), hingga penggalangan dana Program Bapak/Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS) yang selama ini sudah berjalan baik.
"Saat ini dilanjutkan dengan penyuluh agama, semoga dengan pemaksimalan sejumlah upaya ini target penurunan angka stunting bisa tercapai," harapnya.
Lanjut Yos, atas upaya-upaya penanganan stunting, belum lama ini tepatnya 11 Desember 2022, Kota Pekalongan mendapatkan penghargaan Peringkat 1 Kota Perintis Aksi Konvergensi Stunting se-Jawa Tengah Tahun 2022 yang diserahterimakan dari Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin kepada Wakil Walikota Pekalongan, H Salahudin selaku Ketua TPPS Kota Pekalongan di Kantor Bappeda Jawa Tengah.
"Untuk data anak stunting kami dasarnya dari data yang ada di Dinas Kesehatan. Pada Bulan Agustus ada 1200 anak stunting di Kota Pekalongan, dimana sekitar 508 diantaranya merupakan anak dari keluarga tidak mampu dan kami intervensi penanganannya melalui Program Bapak/Bunda Asuh Anak Stunting," tandasnya.
(Dinkominfo Kota Pekalongan).