Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Karyono, mengungkapkan bahwa keberhasilan penyelenggaraan TKA tahun ini menjadi indikator positif bahwa kesiapan sekolah, guru, dan peserta didik dal
Kota Pekalongan – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026 untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) di Kota Pekalongan menunjukkan capaian yang membanggakan dari sisi partisipasi peserta. Dari total 103 SD yang ada di Kota Pekalongan, seluruh sekolah mengikuti pelaksanaan TKA dengan tingkat kehadiran peserta mencapai hampir 100 persen.
Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Karyono, mengungkapkan bahwa keberhasilan penyelenggaraan TKA tahun ini menjadi indikator positif bahwa kesiapan sekolah, guru, dan peserta didik dalam mengikuti asesmen nasional tersebut semakin baik.
"Kalau dilihat dari sisi teknis dan kuantitas pelaksanaan, tidak ada kendala berarti. Dari 103 SD yang ada, semuanya mengikuti TKA. Total peserta yang terdaftar sebanyak 3.125 murid kelas VI se-Kota Pekalongan dan hanya delapan murid dari 5 sekolah yang tidak mendaftar. Artinya, sebanyak 3.117 murid mengikuti TKA dengan lancar," ujar Karyono saat ditemui di kantor Dindik setempat, Selasa (2/6/2026).
Meski demikian, ia mengakui bahwa hasil akademik yang diperoleh murid masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Berdasarkan data yang dihimpun, rata-rata nilai Matematika TKA SD Kota Pekalongan berada pada angka 45,72, sedangkan Bahasa Indonesia mencapai 63,19.
"Hasil ini tentu belum sepenuhnya memuaskan. Namun justru data ini menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kami untuk merancang langkah-langkah perbaikan ke depan," katanya.
Karyono menjelaskan bahwa rentang nilai TKA menggunakan skala 0 hingga 100. Untuk nilai terendah, Matematika tercatat sebesar 6,67 dan Bahasa Indonesia sebesar 10. Sementara itu, capaian tertinggi menunjukkan hasil yang menggembirakan, yakni nilai Matematika mencapai 96,67 dan terdapat dua murid yang berhasil meraih nilai sempurna 100 pada mata uji Bahasa Indonesia.
Menurutnya, data sebaran nilai menunjukkan bahwa sebagian besar murid masih berada pada kategori menengah. Pada mata uji Matematika, sebanyak 1.627 murid memperoleh nilai pada rentang 31 hingga 50, sedangkan untuk Bahasa Indonesia, sebanyak 656 murid berada pada rentang nilai yang sama.
"Data ini memberikan gambaran bahwa masih banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal TKA, terutama yang menuntut kemampuan analisis dan pemecahan masalah," jelasnya.
Ia menilai tantangan utama bukan semata-mata pada penguasaan materi, melainkan pada kemampuan murid memahami dan menganalisis soal yang memiliki stimulus atau stem cukup panjang. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan keterampilan berpikir kritis sejak dini di lingkungan sekolah.
"Anak-anak perlu lebih dibiasakan menghadapi soal yang membutuhkan pemahaman mendalam, bukan sekadar menghafal. Mereka harus mampu membaca informasi, menganalisis, kemudian menentukan jawaban yang tepat. Kemampuan berpikir kritis seperti ini yang akan terus kami dorong untuk ditingkatkan," tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Dinas Pendidikan Kota Pekalongan tengah menyiapkan berbagai strategi peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah dasar. Salah satunya melalui penguatan kompetensi guru agar mampu menerapkan pembelajaran yang lebih aktif, interaktif, dan mendorong murid berpikir kritis.
Menurut Karyono, selama ini berbagai perangkat pembelajaran dan bahan ajar yang mendukung persiapan TKA sebenarnya telah tersedia. Namun, implementasi di lapangan perlu terus diperkuat agar murid semakin terbiasa dengan berbagai variasi bentuk soal dan pendekatan pembelajaran yang menantang kemampuan bernalar.
"Kami sedang merancang program untuk melatih guru agar proses pembelajaran lebih mengaktifkan murid. Anak-anak harus dibiasakan berdiskusi, memecahkan masalah, dan menyampaikan pendapat. Ini sejalan dengan arah pendidikan saat ini yang menekankan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS)," ujarnya.
Selain menjadikan hasil TKA sebagai bahan evaluasi, Dinas Pendidikan juga memanfaatkan berbagai data pendidikan lainnya, termasuk Rapor Pendidikan, sebagai dasar penyusunan kebijakan peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.
Terkait hasil TKA, Karyono menjelaskan bahwa pengumuman resmi telah dirilis secara serentak pada 26 Mei 2026 pukul 13.00 WIB melalui laman TKA. Saat ini sekolah masih melakukan proses rekapitulasi serta validasi data peserta.
"Untuk sementara murid memang belum bisa melihat nilai secara langsung karena masih ada tahapan validasi sekolah dan verifikasi dari Dinas Pendidikan. Setelah proses tersebut selesai, paling lama tujuh hari setelah data validasi Dinas Pendidikan, Sertifikat Hasil Tes Kemampuan Akademik atau SHTKA dapat dicetak dan memunculkan nilai peserta," terangnya.
Ia menambahkan bahwa hasil TKA memiliki manfaat penting bagi peserta didik karena dapat digunakan sebagai salah satu komponen dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), khususnya melalui jalur prestasi.
Dengan tingkat partisipasi yang hampir sempurna dan evaluasi yang semakin komprehensif, ia optimistis kualitas pendidikan dasar akan terus meningkat dari tahun ke tahun.
Lanjutnya, melalui kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah daerah, serta bekerja sama dengan Tanoto Foundation, kemampuan literasi, numerasi, serta berpikir kritis peserta didik diharapkan semakin berkembang sehingga mampu menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.
"Kami melihat hasil TKA ini bukan sekadar angka, tetapi sebagai peta untuk menentukan langkah perbaikan. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh pihak bersama-sama meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga anak-anak Kota Pekalongan memiliki kompetensi yang semakin baik di masa mendatang," pungkas Karyono. (*)