Jawab Kebutuhan Industri Digital, BLK Pekalongan Siapkan Editor Video Bersertifikat

Instruktur TIK BLK Kota Pekalongan, Wiwiek Hayyien, saat ditemui di ruang praktek, Selasa (2/6/2026) mengatakan jumlah pendaftar pada kompetensi video editor cukup banyak sehingga peserta yang lolos h

Kota Pekalongan – Antusiasme masyarakat terhadap Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Tahun 2026 di Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Pekalongan tidak hanya terlihat pada jurusan-jurusan keterampilan teknis, tetapi juga pada kompetensi video editor yang tahun ini menjadi salah satu program yang banyak diminati pendaftar.

Perkembangan media sosial, industri kreatif, hingga kebutuhan promosi digital yang terus meningkat membuat keterampilan mengolah video semakin dibutuhkan. Kondisi tersebut turut mendorong tingginya minat masyarakat untuk mengikuti pelatihan video editor yang diselenggarakan BLK Kota Pekalongan.

Instruktur TIK BLK Kota Pekalongan, Wiwiek Hayyien, saat ditemui di ruang praktek, Selasa (2/6/2026) mengatakan jumlah pendaftar pada kompetensi video editor cukup banyak sehingga peserta yang lolos harus melalui proses seleksi yang ketat.

Dalam pelatihan video editor yang dilaksanakan BLK tidak hanya berfokus pada kemampuan mengedit video semata, tetapi juga dirancang mengacu pada SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) yang ditetapkan Kementerian Ketenagakerjaan.

Ia menjelaskan, selama pelatihan peserta akan mempelajari 11 unit kompetensi yang nantinya menjadi dasar dalam pelaksanaan uji kompetensi pada akhir program.

“Nanti di akhir pelatihan peserta akan mengikuti uji kompetensi. Materi yang diberikan menggunakan SKKNI dari Kementerian Ketenagakerjaan yang terdiri dari 11 unit kompetensi,” jelasnya.

Meski pelatihan baru memasuki hari keenam, berbagai materi dasar telah diberikan kepada peserta. Selanjutnya, pada hari ketujuh peserta mulai memasuki metode pembelajaran berbasis proyek atau project based learning.

Dalam tahap tersebut, peserta akan mengerjakan empat proyek sebagai sarana untuk mengasah kemampuan sekaligus mengaplikasikan materi yang telah dipelajari selama pelatihan.

“Di hari ketujuh peserta mulai masuk project based learning dengan empat proyek yang harus diselesaikan. Jadi mereka tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik menghasilkan karya,” tandasnya.

Menariknya, meskipun kompetensi yang dibuka adalah video editor, materi yang diajarkan tidak hanya sebatas proses penyuntingan video. Dari total 11 unit kompetensi yang dipelajari, sebagian besar juga berkaitan dengan kemampuan videografi.

Menurut Wiwiek, sekitar 70 hingga 80 persen peserta yang mengikuti pelatihan merupakan pemula. Sebagian besar berasal dari kalangan generasi muda atau Gen Z yang sudah akrab dengan media sosial dan aplikasi editing berbasis telepon pintar.

“Mereka sebenarnya sudah sering menggunakan aplikasi editing seperti CapCut yang berbasis AI. Namun di sini kami melatih dari awal dan dari nol menggunakan perangkat dan software yang lebih profesional,” ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali kemampuan menggunakan Adobe Premiere sebagai perangkat lunak utama untuk penyuntingan video. Pemilihan software tersebut dilakukan agar peserta memiliki fondasi yang lebih kuat sebagai editor video.

“Kami menggunakan Adobe Premiere sebagai software utama karena kami ingin peserta memiliki dasar editing yang kuat. Jangan sampai hanya bisa membuat video pendek untuk media sosial, tetapi ketika diminta mengerjakan proyek yang lebih kompleks tidak mampu,” sambungnya.

Ia berharap setelah menyelesaikan pelatihan, para peserta mampu menghasilkan karya yang lebih beragam, mulai dari video promosi, film pendek, dokumenter, hingga konten yang dapat mengangkat potensi daerah.

Lebih lanjut, ia melihat peluang kerja di bidang video editing saat ini terbuka sangat luas. Selain bekerja di perusahaan atau instansi, lulusan juga dapat meniti karier secara mandiri sebagai freelancer, editor video, content creator, hingga clipper untuk berbagai platform digital.

Salah satu peserta pelatihan, Febriana, warga Tirto, mengaku memilih kompetensi video editor karena ingin mengembangkan keterampilan yang telah dimilikinya sejak duduk di bangku sekolah.

Ia menuturkan, sebelumnya pernah menangani akun media sosial kelas sehingga memiliki pengalaman dasar dalam membuat dan mengedit konten video. Namun kemampuan tersebut masih sangat terbatas sehingga dirinya tertarik mengikuti pelatihan untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan secara lebih profesional.

“Saya memilih video editor karena memang sudah ada basic sedikit. Dulu saya pernah meng-handle akun kelas sehingga sesekali melakukan editing video. Dari situ saya ingin mengembangkan potensi yang saya miliki,” tuturnya.

Selama mengikuti pelatihan, Febriana mengaku mendapatkan banyak materi baru, terutama terkait penggunaan perangkat lunak Adobe Premiere yang sebelumnya belum pernah digunakan.

Baginya, proses belajar memang membutuhkan waktu karena software yang digunakan jauh lebih kompleks dibanding aplikasi editing yang biasa dipakai sehari-hari. Meski demikian, ia optimistis kemampuan yang dimiliki akan terus berkembang seiring berjalannya pelatihan.

Setelah menyelesaikan pelatihan dan memperoleh sertifikasi kompetensi, Febriana berharap dapat menekuni bidang kreatif digital secara profesional.

“Harapannya setelah lulus saya bisa menjadi freelancer dan content creator sehingga keterampilan yang didapat dari pelatihan ini benar-benar bisa dimanfaatkan,” pungkasnya.

Melalui pelatihan video editor tersebut, BLK Kota Pekalongan berharap dapat mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai teknologi digital, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri kreatif yang terus berkembang. Di tengah pesatnya pertumbuhan konten digital, keterampilan mengolah video dinilai menjadi salah satu kompetensi yang memiliki prospek menjanjikan di masa mendatang. (*)


Berikan Pendapat Anda